December 04, 2009

Mourning Soul

Belum lagi tuntas kurasakan bahagia itu,

ia pergi secepat angin.

Seperti mimpi,

hilang,

kosong.

Hanya menyisakan untukku jejak

kesedihan

dan

ketakmengertian.

Tak ingin kugugat takdir-Mu, Ya Khaliq

Walau kurasakan hatiku berdarah perih.

Walau tak siap kudapati diri bersabar.

Pena tlah tergores.

Takdir tlah tersurat.

Dan hanya kepada-Mu lah

kami menghiba rahmat, wahai Penguasa Jagat…






Depok, May 25, 2006

Untuk segumpal darah cinta kami yang harus pergi..

Labels:

Senandung Cinta 4

enam ratus hari kebersamaanku denganmu,
banyak hal yang seringkali tak bisa kukatakan kepadamu.
apa yang kupikirkan,
apa yang kurasakan,
apa yang kuinginkan,

enam ratus hari kebersamaaanmu denganku,
banyak hal yang seringkali tak bisa kamu katakan kepadaku.
apa yang kamu pikirkan,
apa yang kamu rasakan,
apa yang kamu inginkan,

enam ratus hari yang sudah terlewati,
dalam banyak canda dan tawa,
dalam banyak cinta dan kasih mesra,
dalam banyak hasrat dan gelora,
pun dalam banyak tangis dan manja,

adakah yang berubah?
selain cinta, kasih, dan takzim yang semakin bertambah?
biar kukatakan padamu, kekasih..

detik ini aku begitu mencintaimu.
tiap detik aku semakin mencintaimu.
dalam pikiranku,
dalam perasaanku,
pun dalam keinginanku tuk terus mencintaimu.

apakah kita akan berubah?
selain tawa bahagia dan peluk manja buah hati kita?
biar kukatakan padamu, kekasih..

kebahagiaan ini tak akan pernah ada habisnya.
ia hadir, dan akan selalu ada disana.

dalam tatapan jernihnya,
dalam tawa polosnya,
dalam rengekan manjanya,
dalam berjuta tingkah polahnya yang tanpa dosa.

kebahagiaan ini tak akan pernah pergi.
ia datang, dan akan selalu tinggal disini.

dalam sarang cinta kita bertiga,
dalam surga dunia rumah kita.
dalam semua ruang cinta yang kita punya bertiga,

enam ratus hari kebersamaan kita yang penuh warna,
terus kupanjatkan doa pada-Nya Sang Maha Pencinta,

semoga,
kamu akan selalu menjadi bahagiaku..
semoga,
aku selalu menjadi bidadari hatimu..
semoga,
permata kecil kita selalu sehat dan bahagia..
semoga,
kita selalu dipercaya tuk menjaga amanah-Nya..
semoga,
bimbingan dan kemudahan diberikan-Nya pada kita bertiga..
semoga,
munajat cinta ini dikabulkan-Nya..

enam ratus hari kebersamaan kita,
semoga cinta yang kuucapkan detik ini,
masih akan selalu sama
pada beratus-ratus hari berikutnya.


Jakarta, 2007

Labels:

Senandung Cinta 3

Ingat ini sebelum kamu meninggalkanku..


Ingatkah kau,
Saat ku bersimpuh tunduk dirumah Tuhan
dan berikrar setia menjadi istrimu?
Aku dipenuhi rasa cinta dan takzim luar biasa
Bagaimana denganmu saat itu?

Ingatkah kau,
Saat ku datang dan menyerahkan diriku
pada malam pertama kita?

Aku dipenuhi rasa rindu dan canggung luar biasa
Bagaimana denganmu saat itu?

Ingatkah kau,
Saat ku mengabarkan padamu
tentang janin kecil yang tumbuh dalam rahimku
setelah pernikahan kita?
Aku dipenuhi rasa bahagia dan haru luar biasa.
Bagaimana denganmu saat itu?

Ingatkah kau,
Saat ku berjuang berdarah-darah
melahirkan anak kita ke dunia?
Aku dipenuhi rasa takut dan perih luar biasa
Bagaimana denganmu saat itu?

Ingatkah kau,
Saat kita berjanji untuk memberikan
surga bagi keluarga kecil kita?
Aku dipenuhi rasa harap dan ingin teramat sangat.
Bagaimana denganmu saat itu?

Kekasihku,
Biarkan aku ingatkanmu kembali,
Sekali lagi,
rasa cinta itu tetap ada.
bahagia masih sama.
rasa sakit itu masih tersisa.
dan harap itu tetap kubina.

Untuk semua waktu yang sudah kita lalui bersama,
Untuk semua kenangan yang sudah kita ukir bersama,
Semuanya kutandai dengan cinta,
dengan asa:
bahwa kamu akan selalu ada bersamaku
untuk melewati hari-hari berikutnya.
untuk mengukir kenangan-kenangan selanjutnya.

Kekasihku,
ingat ini sebelum kamu memutuskan untuk tak mencintaiku lagi,
ingat ini sebelum kamu memutuskan untuk berpaling dan meninggalkanku disini,
ingat ini sebelum kamu memutuskan untuk membuang semua cinta dan asa yang kita punya.

Aku,
yang pernah menjanjikan padamu surga dunia,
Aku,
yang mencoba memberi segala yang kubisa,
Aku,
yang selalu ingin menjadi bidadarimu di dunia dan di surga,
hanya manusia biasa.
hanya manusia yang jauh dari sempurna.
hanya bisa berusaha.
hanya bisa berdoa,
Semoga ingatan ini akan tetap ada bersama kita,
dan selalu menjadi pengikat rasa
yang membuatmu setia pada cinta yang kita punya….

Kuala Lumpur, 13/12/2008


~Aku baru menyadari bahwa cinta itu ada dan bernama, saat aku menemukanmu…

Labels:

Senandung Cinta 2

Jangan bersusah hati, cinta…
Karena kamu punya kami untuk berbagi:
Kesedihanmu,
Kekhawatiranmu,
Kegelisahanmu,
Ketakutanmu..

Jika kamu ingin menangis,
Kami akan menjadi sandaran bagimu:
Kemari, dan sandarkan kepalamu di bahu kami.
Biarkan airmatamu membasahi hati kami,
dan membuat kami semakin mengerti
Bahwa kamu pun membutuhkan kami
untuk menjadi kekuatanmu..

Jangan kau palingkan wajahmu, kekasih..
Karena kami akan selalu ada disini:
Dekatmu, dan selalu ada untuk menemanimu.
Biarkan kami rasakan kelelahanmu,
dan membuat kami semakin mengerti
Bahwa kamu pun menginginkan kami
untuk menjadi penghiburmu..

Kamu, yang selalu berada di depan kami,
Melindungi kami dengan jiwa laki-lakimu.
Kamu, yang selalu berada di samping kami,
Menemani kami menikmati setiap kebersamaan
yang kita punya,
Kamu, yang selalu berada di belakang kami,
Mendorong kami untuk berani melangkah terus ke depan
dan berjaga jika kami terjatuh dan melemah,
Kamu, yang selalu menjadi segalanya buat kami..

Jangan pernah bersedih, ayah..
Karena kamu akan selalu dicintai,
Karena kamu akan selalu dihargai,
Karena kamu akan selalu dikasihi..

Tunjukkan pada kami,
Senyum bahagia itu..
Binar matamu yang teduh itu..
Pancaran hatimu yang hangat itu..

Biarkan kami tahu, dan semakin mengerti,
Bahwa kami adalah sumber bahagiamu..
Bahwa kami adalah penentram jiwamu..
Bahwa kami berarti bagimu..
Biarkan kami tahu, dan menjadi bahagia
bersamamu..


Kuala Lumpur, February 1st, 2009

Labels:

Senandung Cinta 1

Aku merasa seperti sehelai bulu

yang diterbangkan angin

takdir.

Melayang tak tentu arah,

tak jua menjejak tanah.

Ada kehampaan yang terasa,

kesunyian penuh tanda tanya.

Ada yang hilang,

ada yang tak biasa.

Dan aku seperti lupa

bagaimana menjadi biasa.

Aku merasa,

pada akhirnya sayapku kan patah.

Bukan oleh kerasnya angin menerpa;

Bukan karena tak cukup menyangga

pada rangka tubuh yang luka.

Tapi sayapku patah, karena cinta

yang mencengkeram erat

tulang rapuhku.

Sayapku patah,

dan kalah

oleh cinta!

Labels: